selembar angin bodoh melayang jatuh di atas kepala dan tergelincir dalam helaian rambutmu, dan kau mulai terkenang akan desir yang sama kala menapaki hamparan pasir basah sebuah pantai dimana kau dulu sering menghabiskan sore bersamanya, menghitung satu-dua cangkang kerang yang terlelap, atau saling berkejaran di sela-sela jemari ombak yang tak henti menggelitik telapak kaki, dan kau tersenyum geli hingga sama-sama rebah dan saling bertukar pandang, saling membiaskan sinar senja dengan senyuman. “kenangan itu telah dingin. kini aku arang yang hilang api”.
selembar angin bodoh itu pun terhuyung-huyung lalu ambruk di dadamu, hingga debar yang sama kembali terasa sebagaimana kau rasakan saat ricik air wudhu sedang mendesiskan namanya, saat lambaian daun-daun bambu pinggir kali menyerupai tangannya, saat pepohonan di malam hari menyembunyikan bayangnya, saat air mata yang menitik di pipi sebelum kau tidur membiaskan senyumnya, atau saat ... “jangan paksa aku bermimpi! kepada kenangan aku ingin kembali!”
ah, jangan marah begitu. si angin bodoh hanya sedang hilang arah, sebelum kau maki dia pasti sudah beranjak pergi.
by :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar